Fotography Alam

Memotret di Alam Bebas


tukang patiak 244x300 Memotret di Alam BebasMemotret di alam bebas, adalah bentuk kegiatan positif yang memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Khususnya jika kita memotret wilayah hutan rimba ataupun gunung. Cuaca yang tak mudah di tebak dan medan yang di lalui juga tak mudah adalah kesulitan pertama bagi pecinta fotografi di alam bebas. Lalu, kita masih memikirkan perbekalan selama berkegiatan dan tehnik membawanya, tentu karena perjalanan yang tidak sebentar dan jauh, akan menimbulkan kelelahan tersendiri. Hasilnya, karena lelah maka saat kita memotret, hasilnya pun tak akan sempurna. Faktor ini juga yang membuat kita malas memotret, bahkan juga malas mengeluarkan kamera. Berikut adalah tips memotret di daerah gunung hutan rimba.

1. Menyewa jasa angkut ( Porter ), salah satu cara menjaga tubuh kita agar tak mudah lelah adalah dengan menggunakan jasa porter, biaya per harinya beragam, dari Rp 100.000 / hari hingga Rp. 200.000 / hari, biasanya setiap porter membedakan tarif bagi wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara.

2. Bawalah peralatan fotografi sesuai dengan kebutuhan, Jika kita membawa peralatan yang sekiranya tidak dibutuhkan, itu hanya menambah beban bawaan kita. Disinilah letak kejelian kita. Semakin sering kita memotret di alam bebas, semakin terlatih pula diri kita dalam memilih peralatan yang akan dibawa.

3. Menguasai tehnik petualangan alam bebas, selain menguasai teknik fotografi, kita juga harus mengerti teknik dasar gunung hutan, mulai dari perbekalan sampai persiapan fisik dan mental yang matang merupakan salah satu faktor yang terpenting.

4. Sabar dalam menunggu momen, Hal inilah yang menurut saya paling sulit, karena kita tidak akan dapat “membaca” alam, kapan akan turun hujan dan kapan akan panas, bisa saja, waktu kita akan memotret tiba – tiba hujan turun, dan pada saat kita istirahat, cuaca cerah. Maka, rajin – rajinlah bangun pagi dan menunggu momen yang tepat untuk memotret. Memang hal ini sangat membosankan, cobalah anda tunggu sambil mendengarkan mp3 atau ngobrol dengan tetangga rumah ( Lho? ).

5. Jangan malas untuk mencari angle ( sudut pandang ), udara yang dingin atau panas membuat kita malas untuk berjalan sekedar untuk mencari angle yang baik, terkadang angle yang bagus ada di tempat yang tidak kita coba, contoh kasus, pada saat seseorang memotret di Gunung Semeru, dia sangat malas untuk mencari angle, alhasil dia baru sadar dan menyesal saat dia melihat foto di sebuah majalah dengan tempat yang sama, namun angle – nya berbeda.

6. Memotret kehidupan masyarakat sekitar pegunungan. Memotret masyarakat setempat memiliki keunikan tersendiri karena biasanya masyarakat sekitar memiliki suatu adat istiadat yang belum pernah kita jumpai sebelumnya.

7. Jagalah peralatan anda baik – baik. Daerah pegunungan umumnya memiliki cuaca yang sangat ekstrim, maka jagalah peralatan fotografi anda, terutama kamera dan lensa yang dapat lembab karena cuaca yang dingin.

8. Waktu terbaik untuk mendapatkan sebuah foto landscape adalah pada saat “Golden Hour” atau waktu emas. Waktu tersebut kira – kira 30 menit setelah matahari terbit atau 30 menit sebelum matahari terbenam. Namun, anda juga bisa mendapatkan sebuah dramatik awan yang gelap pekat ataupun awan putih besar dengan langit yang biru cerah. Tentunya, anda memang harus benar – benar memastikan bahwa waktu yang kita gunakan adalah tepat.

Peralatan
Agar dapat menangkap dan menghasilkan foto tentang keindahan alam bebas yang paling praktis adalah dengan menggunakan kamera SLR atau RLT ( analog maupun digital ) 35 mm dengan sebuah lensa zoom, wide hingga tele ( 28 – 85 mm ) atau tele menengah hingga yang panjang ( 75 – 210 mm ). Lensa sudut lebar 20 mm atau lensa tele 300 mm juga lebih baik jika ada.

Perlu dicatat bahwa foto tentang alam bebas itu tidak selalu identik dengan foto yang harus diambil dengan menggunakan lensa sudut lebar untuk menangkap area yang luas. Melainkan bisa juga dengan lensa tele untuk detail dan sesuatu yang lebih khas. Bedanya, bila menggunakan lensa sudut lebar, pemotret harus bisa memastikan bahwa pemandangan alam bebas yang akan “dibingkainya” memiliki latar depan ( foreground ) yang menarik. Misalnya seperti ada bunga – bunga, bebatuan yang artistik, siluet sebuah benda ( refleksi ), bayangan pepohonan atau dedaunan untuk menciptakan kesan tiga dimensi yang kuat.

Sedangkan bila menggunakan lensa tele panjang, pemandangan alam bebas yang akan dipotret bisa menggambarkan secara khas tentang detail suatu objek yang menjadi ciri khas tempat atau daera itu. Dengan begitu akan dihasilkan foto khas dan menarik karena sentuhan serta sajian yang berbeda.

Penggunaan kamera dengan lensa – lensa yang bisa mencakup berbagai sudut pandang saja belumlah cukup untuk menghasilkan foto – foto yang baik. Hal – hal lain yang masih diperlukan adalah kelengkapan seperti filter – filter misalnya filter polarisasi ( PL ), filter 85B dan filter Neutral Density ( ND ).

Filter polarisasi ( PL ) sangat berguna untuk mengurangi refleksi selain lebih sering digunakan untuk membuat biru langit dan menghijaukan rerumputan atau dedaunan. Filter 85B untuk memperkuat warna cahaya matahari terbenam dan matahari terbit. Sedangkan filter ND berguna untuk memperkecil perbedaan kekuatan sinar antara langit dengan bagian bawah foto, sehingga keadaannya terekam normal dari segi pencahayaan.

Foto Alam dengan Kamera Pocket

Namun, jika anda tergolong seseorang yang senang bepergian dengan menggunakan kamera saku, juga tak perlu berkecil hati jika ingin merekam keindahan alam bebas yang dilihat. Karena dengan kamera saku, khususnya kamera saku digital juga dapat menghasilkan foto alam bebas yang indah dengan mudah.

Fasilitas – fasilitas yang komplit dalam software dapat membantu menciptakan foto-foto alam bebas yang biasa dibuat dengan kamera saku menjadi luar biasa. Hal itu terjadi karena foto dapat dimanipulasi dengan memanfaatkan komputer. Asal mahir mengoperasikan komputer, setidaknya dapat menghasilkan foto yang baik dan menarik dari sebuah foto biasa yang dihasilkan kamera saku. Dengan cara ini bahkan tak perlu menjadi seorang profesional untuk menghasilkan foto yang baik.

SARAN BERFOTO DI ALAM BEBAS

Kesalahan yang sering terjadi:
1. Posisi kamera tidak pas atau goyang – goyang
2. Pencahayaan bervariasi ( terlalu terlihat di langit atau awan ) karena pengambilan yang kurang serentak
3. Stitching kurang memuaskan secara otomatis, maka harus dilakukan manual dengan merubah titik control ( ada di Panomaker )
4. Cek kembali lensa yang dipakai.

Persoalan komposisi harus ditentukan secara hati – hati. Karena itu perhatikan latar depan, latar belakang, perspektif dan horizon, dengan pembagian ruang yang harmonis saat melakukan pemotretan.

CAHAYA
Yang baik untuk kebutuhan foto pemandangan adalah cahaya alam sesaat matahari terbit atau sebelum sang surya terbenam. Hal itu karena bayangan terentang panjang, warna-warni menjadi matang dan langit tampak bersinar. Karena itu dianjurkan untuk tidak terlalu terburu – buru dalam melakukan pemotretan pemandangan. Sebaiknya, untuk selalu bersabar menunggu atau menanti cahaya matahari terbaik sehingga tercapai hasil foto dengan penyinaran yang baik. Arah cahaya dari samping yang dihasilkan oleh matahari pagi atau sore menghasilkan tekstur dengan karakter yang khas. Karena itu pilihlah keadaan dengan memadukan objek dan karakteristik yang sesuai kondisi cahaya.

PEMBINGKAIAN
Lakukan pembingkaian dengan cara terlebih dahulu mempelajari suatu keadaan sehingga bisa memilih sesuatu. Apakah itu batang pohon kering, dedaunan, bangunan, bukit untuk memperkuat foto dengan memanfaatkannya sebagai latar depan ( foreground ) atau latar depan ( background ).

DIAFRAGMA
Sebaiknya gunakan pemakaian diafragma kecil sehingga didapatkan hasil foto dengan ketajaman luas, yaitu latar depan hingga latar belakang tampak tajam semua. Seperti yang harus dilakukan jika memakai lensa sudut lebar untuk memperbesar jarak antara yang dekat dengan yang jauh.

CAKRAWALA
Biasakan memainkan peran cakrawala dengan menempatkannya pada bagian bawah bila ingin menonjolkan bagian tas, misalnya langit yang luas menawan, cakrawala tinggi. Atau menempatkannya pada bagian atas bila ingin menonjolkan bagian bawah foto yang menarik sekaligus untuk menerangkan bahwa sudut pemotretan dari ketinggian.

ALAM
Manfaatkan segala sesuatu yang berhubungan dengan alam, seperti keadaan cuaca, mendung, salju dan sebagainya, karena semua itu bisa mempengaruhi emosi yang kuat bagi terciptanya foto. Dengan peralatan memadai dan perencanaan yang baik, memotret alam bebas sesuai yang diperkirakan akan sangat mungkin menjadi kenyataan. Dan hal itu tentu akan terjawab dan tergambar pada foto bila kita sendiri mencintai alam. Sebab sesungguhnya selalu ada sesuatu yang indah yang dikeluarkan oleh alam.

Alam memang tak ada habis – habisnya menyuguhkan pesona. Seorang fotografer yang baik, dapat menangkap scene atau gambar yang indah untuk selanjutnya diambil dalam landscape photography. Foto alam selain untuk koleksi pribadi yang menyejukkan mata, juga diperlukan untuk mereka yang bekerja mempromosikan wisata alam. Selamat berfoto dengan alam…. (sumber : belantaraindonesia.

 

 

Sampai Ke Gunung Pun Dikejar Waktu

Beberapa pepatah di kalangan pendaki gunung yang cukup terkenal adalah “Because it’s  there”., ketika ditanya “ngapain sih capek-capek naik gunung?”. Yang lainnya adalah “Tak kan lari gunung dikejar”. Intinya, ngapain buru-buru atau tergesa-gesa berjalan menyusuri trek mendaki gunung. Toh gunung tidak akan kemana-mana. Tapi ternyata pameo ini tidak berlaku di Gunung Gede-Pangrango, karena waktu pendakian dibatasi 2 hari 1 malam. Jadi tetap harus terburu-buru, mengejar gunung yang tidak bakalan lari

Pernah tergesa-gesa mendaki gunung? Atau Anda tinggal di daerah dataran rendah seperti Jakarta, Semarang, atau Surabaya dan kemudian disela-sela rutinitas menyalurkan hoby sebagai penikmat alam dengan mendaki gunung? Atau pas mendaki gunung langsung saja sprint, buru-buru menuju puncak dan kemudian turun lagi? Anda selamat sampai puncak dan setelahnya sampai turun lagi ke kaki gunung? Berarti Anda termasuk berpengalaman atau beruntung.

Jika tidak beruntung, Anda yang terlalu cepat atau buru-buru, atau sok jago cepet-cepetan naik gunung ini rawan terserang penyakit mountain sickness. Penyakit gunung ini biasanya menyerang pendaki gunung yang tidak melakukan aklimatisasi atau penyesuaian terhadap ketinggian tempat.

Ciri manusia yang terserang mountain sickness ini antara lain: Pusing-pusing, mual, muntah, telinga berdenging, keringat dingin, lemas dan/atau letih, mengantuk, dan kadang sesak napas diikutin batuk kering. Cara penanggulangan yang efektif buat korban mountain sickness ini adalah harus buru-buru dibawa turun dari ketinggian. Atau berhenti, jangan melanjutkan perjalanan ke ketinggian.

Beristirahat di tiap pos merupakan cara efektif menghindari mountain sickness

Perkara serangan penyakit gunung akibat tidak melakukan aklimatisasi dan terburu-buru mendaki ke ketinggian ini pernah juga saya alami. Waktu itu saya sedang nge camp di Pos Montana bersama teman-teman. Montana adalah nama sukarelawan yang ada di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan bermarkas di Cibodas. Waktu itu kalau tidak salah tahun 2003, dan ada laporan bahwa puncak gunung Pangrango terbakar. Buru-buru saya bersama beberapa teman sebagai team pertama segera meluncur menyusuri jalur untuk sampai ke puncak Pangrango. Kami berangkat malam hari pukul 20.00 WIB. Dengan masing-masing membawa beban di punggung kami berjalan secepat mungkin untuk segera memadamkan api. Kami hanya berhenti beberapa menit untuk minum air putih dan kopi panas. Karena terburu-buru ini dan berjalan dengan dipaksakan karena takut kebakaran meluas, maka di jalur antar Pos Kandang Badak menuju puncak Pangrango kepala saya mulai pusing. Selain kepala pusing, telinga berdengung, perut saya pun mual, dan keringat dingin mulai membasahi badan. Saya terserang mountain sickness.

Teman-teman lain yang sangat peduli dengan kebakaran terus saja memacu langkahnya. Mereka sih aman-aman saja karena sudah berada di Cibodas selama berbulan-bulan dan tiap hari naik-turun kawasan TNGGP. Jadi sudah damai dengan ketinggian. Saya yang baru saja datang dari Jakarta di ketinggian hanya 20 m dpl, ketika harus segera naik terburu-buru ke ketinggian sekitar 3000 m dpl tentu saja terserang penyakit gunung.

Karena emoh menjadi korban, saya putuskan untuk berhenti. Satu teman menemani saya, sisanya segera berlari lagi. Ketika beristirahat saya segera ngemil biskuit berenergi tinggi, minum air putih, dan merebus susu. Setelah kenyang saya tiduran tanpa terpejam 15 menit, kemudian perlahan menyusul teman-teman lain. Pukul 01.00 WIB, saya sampai di puncak pangrango yang sebagian membara. Jadi saya berjalan dari pos Cibodas (1250 m dpl) sampai Puncak Pangrango (3019 m dpl) hanya 5 jam, normalnya 10-12 jam. Perbuatan yang tidak layak ditiru.

Anggrek spesies yang bermekaran di sepanjang jalur TNGGP, bisa sekalian dinikmati sembari aklimatisasi

Pada kasus Pangrango ini, saya tidak mengejar gunung, toh dia tetap saja disitu. Tapi kami mengejar api supaya tidak merembet dan menghabiskan Taman Nasional. Tapi tetap saja pepatah “tak kan lari gunung dikejar” tidak berlaku di TNGGP. Pasalnya waktu pendakian gunung di Taman Nasional ini hanya dibatasi 2 hari 1 malam. Tetap harus buru-buru.

Dulu sekali, waktu pendakian ke Taman Nasional tertua di Indonesia ini adalah 3 hari 2 malam. Waktu yang ideal menurut saya, juga masih bisa berjalan dengan santai buat para pendaki pemula. Buat penyuka olahraga petualang yang gemar mengajak anak seperti saya, juga masih bisa mengajak anak saya yang masih balita. Tapi dengan waktu 2 hari, saya yakin balita saya bakalan terserang mountain sickness. Buat pendaki pemula juga harus berjalan cepat, seperti para eksekutif di Jakarta dikejar-kejar waktu. Atau seperti para wartawan harian yang dikejar deadline.

Puluhan kali mendaki gunung Gede dan Pangrango. Shedule saya sebagai berikut. Hari pertama, pagi-pagi biasanya saya datang ke Cibodas, belanja, lapor, dan melakukan perjalanan aklimatisasi sampai di Pos Panyancangan. Dari sini kita buka tenda, masak, dan refreshing di sekitar air terjun Cibereum sampai sore. Kemudian menginap.

Pagi hari melanjutkan perjalanan dengan santai, di tiap pos (rawa denok1 dan 2, batu kukus 1-3, pondok pemandangan, pos air panas, kandang batu, air terjun panca weuleuh, selter panca weuleuh) kami berhenti. Ngemil, istirahat, ngopi, makan siang, dan menikmati flora fauna yang ada. Sebab flora fauna inilah yang menjadi tujuan kami mendaki gunung ini. Pasalnya kawasan ini merupakan kawasan dengan biodiversity terlengkap di Jawa. Sore biasanya kami sampai di Pos Kandang Badak. Kami nge camp di sini sampai subuh. Atau terus melanjutkan perjalanan ke puncak. Bagi yang ngecamp disini, biasanya subuh kami berjalan ke puncak untuk menikmati sunrise. Bisa dengan membawa seluruh perlengkapan kami dan terus pulang lewat Gunung Putri atau hanya membawa day pack kalau kami tetap pulang lewat Cibodas.

Di Puncak Gede atau Pangrango biasanya kami bertahan sampai pukul 09.00. Selanjutnya selama 1 jam kami turun ke pos Kandang Badak atau Alun-alun Suryakencana. Dari sini kami packing, sarapan dan melakukan perjalanan turun. Sampai Cibodas atau Gunung Puteri biasanya 5-6 jam kalau normal dan beristirahat Jadi sekitar pukul 18.00 kami sudah di pinggir jalan Cipanas-Puncak menanti bis ke Jakarta. Ini waktu ideal untuk mendaki Gede atau Pangrango. Tiga hari dan dua malam. Tapi pernah juga, saya sprint ketika melatih fisik. Dari pos Cibodas ke Puncak Gede hanya 10 jam pergi pulang. Tanpa terkena mountain sickness tentunya, karena saya sudah berada di Cibodas selama 1 bulan dan hampir tiap hari saya keluyuran di kawasan TNGGP.

Nah perkara ketentuan izin pendakian yang dibatasi hanya 2 hari 1 malam ini saya sedikit heran. Banyak yang pengen ke TNGGP karena pengen keluar dari rutinitas Jakarta atau kota besar lainnya. Melupakan kesibukan, dikejar-kejar waktu, pekerjaan dan lalulintas Jakarta yang serba balapan dan macet. Begitu sampai di TNGGP merekapun tetap harus buru-buru, tergesa-gesa mengejar gunung yang tidak bakalan lari.

Saya jadi berpikir, suatu ketika mungkin Balai Besar TNGGP akan dituntut oleh pendaki yang terkena mountain sickness karena terburu-buru mendaki tanpa sempat aklimatisasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s