Materi SURVIVAL

http://maps.google.com/maps

Survival Di Gunung, Sebuah Panduan Lapangan PDF Print E-mail

Gunung adalah salah satu lingkungan yang tidak lazim dihuni oleh manusia. Namun gunung sering menjadi tempat pilihan pertama bagi sebagian orang untuk kegiatan mereka. Kondisi alam di gunung sangatlah sulit ditebak. Kadang cuaca cerah tapi dengan hitungan menit sudah menjadi hujan disertai angin kencang. Selain itu cuaca di gunung sangat dingin. Tak heran jika banyak terjadi kecelakaan di gunung. Melakukan persiapan dengan baik sebelum melakukan kegiatan di gunung adalah tindakan survival yang utama dan paling mudah dilakukan,

tapi manfaatnya adalah sangat besar bagi nyawa manusia. Mengenal medan Secara umum kondisi medan di gunung adalah berbahaya, terutama bagi orang yang tidak pernah mengenalnya, namun bagi sebagian orang gunung adalah tempat yang sangat dicintai karena alamnya yang sangat indah. Selain itu ada sensasi sendiri bagi orang yang bisa mendaki dan mencapai puncak gunung. Berikut adalah beberapa hal tentang kondisi medan di gunung :

  • Suhu udara dingin, beberapa gunung di Indonesia bahkan bisa mencapai 0 derajat celcius.
  • Kontur tanah tidak rata, banyak jurang dan lembah.
  • Sebagian gunung di Indonesia lerengnya terdapat hutan yang lebat, sehingga banyak sumber makanan dan air, namun di bagian puncak gunung, hampir tidak ada sumber makanan.
  • Untuk gunung yang mempunyai hutan di lerengnya, biasanya terdapat binatang seperti harimau, babi hutan, ular berbisa dan anjing liar.

 

Persiapan Hal yang perlu disiapkan ketika melakukan kegiatan di gunung adalah :

  • Kondisi tubuh yang sehat.
  • Kondisi mental yang stabil.
  • Tujuan melakukan kegiatan di gunung harus jelas, supaya pola kegiatan yang dilakukan bisa direncanakan dengan baik. Mengingat kondisi medan di gunung berbeda dengan kondisi medan yang biasa kita hadapi, maka ada peralatan-peralatan dan bahan yang harus kita siapkan dan bawa yaitu:

* Peralatan Dasar

  1. Pakaian yaitu : baju lapangan, kaus dari bahan yang bisa menyerap keringat, jelana (buka jins), pakaian dalam secukupnya, jas hujan, kaus kaki, kaus tangan, penutup kepala (topi rimba dan balaclava), ikat pinggang, sepatu untuk mendaki (trekking).
  2. Peralatan untuk beristirahat : shelter (tenda buatan atau alami), sleeping bag, matras atau alas.
  3. Peralatan untuk masak : kompor, panci, gelas / piring (dari plastik atau bahan lain yang tidak mudah pecah), pematik api, dan bahan bakar (disesuaikan dengan kompor atau pemanas yan tersedia)
  4. Peralatan Pribadi : sabun, sikat gigi, handuk, obat pribadi, jarum, benang dan peralatan lain sesuai kebiasaan.
  5. Ransel atau tas punggung yang sesuai dengan barang bawaan dan pisau rimba dan ponco.
* Peralatan tambahan
  1. Peralatan Navigasi : GPS, peta, kompas, jam tangan
  2. Peralatan Fotografi : kamera SLR atau pocket, handycam.
  3. Peralatan Komunikasi : telepon selular, handy talky.

Etika di gunung

Di manapu kita berada sebaiknya kita tetap menjaga kebiasaan lingkungan setenpat. Maka ketika melakukan kegiatan di gunung, kebiasaan atau aturan penduduk asli haus kita hormati dan jangan sekali-kali menentangnya. Selain menghormati kebiasaan setempat, berikut adalah hal-hal yang sebaiknya kita lakukan :

  • Kendalikan diri, dan ketahuilah kemampuan diri sendiri
  • Jangan meninggalkan sampah.
  • Jangan meninggalkan api.
  • Jika menemukan sumber makanan dan air gunakan seperlunya saja.
  • Jagalah keseimbangakn ekosistem yang ada, jangan merusak dan memberi tanda-tanda permanen di gunung. · Gunakanlah jalur yang normal dan aman
  • Selalu mengingat jalur mana yang telah dilewati, jika tersesat maka bisa kembali ke jalan semula.

Kecelakaan di gunung

Kegiatan di gunung memang rawan terhadap kecelakaan. Penyebabnya adalah kondisi medan di gunung yang ekstrim. Kecelakaan di gunung biasanya disebabkan oleh :

  • Kedinginan
  • Kelaparan
  • Kehausan
  • Kehilangan arah / tersesat

Kedinginan

Hampir sebagian besar korban kecelakaan gunung disebabkan oleh kedinginan. Maka untuk menanmbah angka korban tersebut ada baiknya bertindak cermat ketika kedinginan melanda. Akibat dari kedinginan Akibat dari kedinginan adalah penyakit hipotermia, kondisi tubuh tidak normal karena kedinginan (suhu normal manusia 36-37 derajat celcius). Hipotermia disebabkan karena panas di permukaan tubuh sudah hilang sehingga organ-organ tubuh pun akan mengalami kedinginan. Jika pembuluh darah sampai mengerut karenan kedinginan maka akibatnya sangat fatal, karena bagian tubuh yang sirkulasi darahnya terhenti akan rusak dan penanganannya adalah amputasi. Selain gangguan di organ-organ tubuh, orang yang mengalami hipotermia akan kehilangan koordinasi tubuh dan pola pikir rasional, maka tak heran jika orang yang menderita hipotermia bicaranya akan kacau di luar sadar, bahkan bisa pingsan. Mencegah dan menangani kedinginan

Beberapa point penting ketika mengalami kedinginan adalah :

  • Jaga agar pakaian dan tempat istirahat tetap kering
  • Jaga peralatan dan pakaian yang dikenakan dalam keadaan bersih
  • Makan dan minuman yang panas dan mengandung banyak kalori
  • Kurangi aktifitas yang tidak perlu.
  • Berlindung di tempat yang aman.

Untuk mencegah kedinginan ketika di gunung yang paling mudah adalah gunakan pakaian penahan dingin seperti jaket. Tetaplah gunakan pakaian yang dapat menyerap keringat dengan baik seperti kaus dari bahan katun sebagai lapisan pertama yang menyentuh kulit. Pakailah juga kaus tangan dan kaus kaki yang baik dan cukup tebal untuk menahan dingin. Selain pakaian, untuk mengatasi dinginnya udara dingin, adalah memanfaatkan api. Dengan membuat perapian maka panas tubuh dapat terjaga dengan baik. Untuk membuat api usahakanlah agar tetap terlokalisasi. Caranya gunakan batu sebagai batas perapian dan sebelum meninggalkan tempat pastikan bahwa api sudah benar-benar padam, kalau perlu siramlah dengan air. Jangan sampai perapian yang dibuat menjadi penyebab musnahnya ekosistem. Cara lain adalah dengan mengkonsumsi makanan dan minuman hangat. Jika kedinginan maka tubuh akan bereaksi melakukan pembakaran kalori menjadi panas. Tapi jika kalori tidak tersedia maka akibatnya akan fatal. Maka makanan dan minuman hangat adalah usaha pencegahan kedinginan dari dalam tubuh yang baik. Perlu diingat juga agar kedinginan tidak menyerang adalah jangan berada di lokasi hempasan angin.

Kelaparan

Ini adalah ancaman bahaya yang paling gampang diprediksi dan ditanggulangi. Sebagai manusia yang setiap kali makan, maka seharusnya bisa mengukur berapa makanan yang diperlukan dalam jangka waktu tertentu. Rumus yang sering digunakan untuk membawa jumlah makanan yang diperlukan adalah 2n+1 (n adalah jumlah hari selama melakukan kegiatan), jika kegiatan dilakukan selama 2 hari, maka perbekalan yang dibawa adalah 5 x jumlah makanan dalam kondisi normal. Jika sampai terjadi kelaparan maka penyebabnya adalah: salah perhitungan, hilang, atau tersesat sehingga waktu kegiatan menjadi lebih lama. Kelaparan akan menjadi masalah serius, dalam jangka waktu tertentu, tergantung kondisi masing-masing orang, kelaparan dapat menyebabkan kematian. Satu-satunya jalan untuk mengatasi bahaya kelaparan di gunung adalah mencari bahan makanan dan makan.

Kehausan

Air adalah bagian yang sangat penting dalam tubuh manusia. Kekurangan cairan dalam tubuh akibatnya sangat fatal (kematian) dibandingakan kekurangan makanan. Dampak dari kehausan atau dehidrasi adalah : · Pingsan

  • Kehilangan orientasi dan pola pikir rasional
  • Gerakan-gerakan tubuh tidak terkoordinasi (gemetar)
  • Mati Jika dalam keadaan dihidrasi, maka langkah darurat yang harus dilakukan adalah :
  • Mencari tempat berteduh (jika cuaca panas)
  • Istirahat dan kurangi aktifitas yang tidak perlu.
  • Cari sumber air yang bisa dimanfaatkan dengan aman

Kehilangan arah / tersesat

Kegiatan di alam terbuka mempunyai resiko utama tersesat. Ketika orang tersesat maka kondisi mental mereka akan menurun, panik, lebih-lebih jika sendirian. Berikut tip untuk menangani keadaan tersebut :

  • Pastikan bahwa dalam perjalanan, arah yang dituju benar, paling tidak ada orang lain yang tahu arahnya.
  • Selalu gunakan alat-alat navigasi seperti peta, kompas, GPS, dan alat komunikasi.
  • Jika sudah tersesat, kembali lagi ke jalan sebelumnya, jika tidak ketemu maka langkah yang terbaik adalah berhenti dan beristirahat dulu, berpikir, kenali medan dengan bantuan alat navigasi dan merencanakan tindakan selanjutnya – Rumus STOP (Site, Thingking, Observation, Planing)
  • Gunakanlah alat komunikasi untuk mengubungi orang lain.

Jika tersesat dan perjalanan tidak mungkin dilakukan maka langkah yang ditempuh adalah :

  • Buat tempat perlindungan untuk istirahat.
  • Jaga agar kondisi tubuh tetap dapat beraktifitas dengan baik.
  • Periksa peralatan dan bahan makanan, jika tidak cukup, maka sebaiknya mencari.
  • Komunikasi dengan orang lain, jika tidak mungkin maka buat tanda untuk menarik perhatian orang.

Rangkuman dari :

  1. Survival, Evacuation and Recovery SEAL-
  2. Survival FM 21-76
  3. Military Mountaineering
  4. dan sumber lain
Shelter – Tempat Perlindungan Darurat PDF Print E-mail

Salah satu usaha penting dalam bertahan hidup alam bebas adalah membuat tempat perlindungan. Tempat perlindungan ini-dengan keahlian khusus-dapat kita bikin dengan peralatan dan bahan yang disediakan alam. Tidak harus dengan peralatan dan bahan khusus. Tapi tentu saja lebih baik kita persiapkan sejak awal kegiatan, daripada repot di tengah hutan belantara. Dengan adanya tempat perlindungan maka dalam keadaan darurat manusia tetap dapat bertahan hidup, aman dari bahaya yang ada sesuai dengan situasi dan kondisi alam, sehingga dapat kembali ke keadaan normal seperti semula.

Ketika membuat tempat perlindungan, ada hal-hal penting yang perlu dipertimbangkan, yaitu

  • Bahan atau material yang secara praktis dapat dijadikan tempat perlindungan.
  • Peralatan dan tenaga yang diperlukan.
  • Kondisi alam (vegetasi, kontur tanah)
  • Berapa lama membuat tempat berlindung dan berapa lama kita akan berlindung.
  • Bahaya-bahaya yang diperkirakan dapat mengancam selama kita berlindung.
  • Pertimbangan terakhir adalah tempat perlindungan yang dibuat tidak merusak ekosistem alam.

Hal-hal di atas akan sangat mempengaruhi tempat perlindungan yang kita bangun. Contohnya jika kondisi alam hujan deras disertai angin maka tempat perlindungan yang kita buat akan lain dengan kondisi alam yang tenang dan bersahabat. Tempat perlindungan di hutan rimba yang penuh binatang buas akan lain pula dengan di pantai yang relatif tidak ada binatang buas yang mengancam. Selain hal-hal yang harus dipertimbangkan di atas maka ada syarat-syarat tempat perlindungan yang harus dipenuhi yaitu :

  • Mampu melindungi dari suhu panas atau dingin.
  • Mampu melindungi dari cuaca hujan.
  • Aman dari gangguan binatang buas atau binatang lain yang berbahaya bagi manusia.
  • Bebas dari gangguan alam seperti angin, longsor dan banjir.
  • Dekat dengan sumber air dan makanan.
  • Cukup tempat untuk berlindung sesuai dengan jumlah personal yang ada.
  • Dalam keadaan tersesat dan butuh pertolongan maka diusahakan tempat perlindungan menarik perhatian orang, misalnya dengan bentuk atau warna yang kontras dengan alam sekitar.
  • Untuk kondisi seperti perang, syarat tempat perlindungan adalah tersembunyi sehingga aman dari tinjauan musuh.

Dilihat dari bahan dan cara pembuatan, tempat perlindungan di bagi menjadi dua jenis yaitu tempat perlindungan alami, dan buatan.

TEMPAT PELINDUNGAN ALAMI

Ada beberapa tempat di alam terbuka yang langsung bisa dijadikan tempat perlindungan misalnya :

Pohon

Pohon bisa digunakan sebagai tempat perlindungan yang paling praktis. Bagian bawah pohon yang rimbun bisa dijadikan tempat berlindung dari panas atau hujan. Namun ada beberapa hal yang harus dicermati sebelum menggunakan pohon sebagai tempat perlindungan, yaitu :

  • Pohon tidak bisa digunakan sebagai tempat berlindung dalam jangka waktu yang lama.
  • Bukan pohon yang berbahaya, misalnya pohon yang kulit atau daunnya dapat menimbulkan gatal-gatal.
  • Pastikan bahwa tidak ada binatang berbahaya yang ada di pohon tersebut misalnya lebah, serangga lain yang mengandung racun atau binatang lain yang bersarang misalnya macan dahan.
  • Pohon tersebut cukup kuat

Keuntungan menggunakan pohon sebagai tempat perlindungan adalah :

  • Praktis karena bisa langsung diggunakan
  • Jika pohon itu mempunyai buah yang bisa dikonsumsi maka paling tidak ada sumber makanan.
  • Pohon-pohon tertentu biasanya menandakan bahwa disekitarnya terdapat sumber air, misalnya pohon bambu.

Berlindung menggunakan pohon tidak selamanya aman, bahya-bahaya itu antara lain :

  • Roboh. · Masih bisa kena hujan. · Tidak melindungi dari kondisi suhu yang dingin.
  • Menjadi sarang serangga berbahaya seperti lebah atau binatang berbahaya lain seperti ular atau macan dahan.

Berikut adalah tips untuk menggunakan pohon sebagai tempat perlindungan :

  1. Pilih pohon yang kuat, misalnya pohon beringin atau pohon besar lain. Di beberapa hutan tropis ada pohon randu hutan yang dalamnya berlubang besar sehingga sangat praktis dan aman untuk digunakan sebagai tempat berlindung. Rumpun bambu yang lebat juga bisa dijadikan tempat berlindung darurat karena cukup kuat dan biasanya dekat dengan sumber air, tetapi bagi orang tertentu bambu dapat mengakibatkan dampak gatal-gatal.
  2. Perhatikan kekuatan pohon tersebut.
  3. Periksa sekitar pohon, pastikan bahwa tempat tersebut aman dari binatang buas, misalnya dengan tidak adanya kotoran hewan berarti sekitar pohon tersebut tidak dihuni oleh binatang.
  4. Untuk pohon berlubang, perhatikan lubang bagian atas, karena biasanya tempat tersebut dijadikan sarang beberapa jenis binatang seperti kelelawar atau lebah.

Gua

Gua merupakan tempat yang baik untuk berlindung. Tetapi biasanya gua juga dijadikan tempat berlindung atau sarang binatang buas seperti harimau atau ular. Keuntungan menggunakan gua sebagai tempat berlindung adalah praktis, aman dari panas dan hujan dan biasanya di dalam gua ada sumber air. Hal yang membahayakan jika berlindung di dalam gua adalah ancaman binatang buas, dan persediaan udara yang terbatas. Untuk menggunakan gua sebagai tempat perlindungan, maka lakukan hal-hal berikut ini :

  • Pastikan bahwa gua tersebut aman dari binatang buas, dengan memeriksa terlebih dahulu sekitar gua, misalnya apakah ada jejak atau kotoran binatang buas.
  • Perkirakan tempat cukup lapang sesuai dengan jumlah personal yang ada.
  • Perhatikan keadaan gua, apakah cukup tersedia oksigen dan tidak ada gas berbahaya, ada beberapa gua di bawah tanah yang mengandung/mengeluarkan gas berbahaya.

Jika di dalam gua ada tumbuh-tumbuhan kemungkinan tidak ada gas beracun. Untuk lebih aman, jika memungkinkan uji dengan menggunakan hewan atau api. Jika api tetap hidup maka dilingkungan tersebut tersedia cukup oksigen. · Gunakan bagian gua yang kering. · Untuk gua yang terdapat di sekitar sungai atau laut, perhatikan batas air pasang.

TEMPAT PERLINDUNGAN BUATAN

Tempat perlindungan bisa dibuat baik menggunakan bahan-bahan yang ada di alam misalnya ranting, batang pohon dan daun, atau menggunakan bahan-bahan yang sudah disiapkan misalnya dari kain tahan air atau plastik. Yang paling praktis adalah menggunakan tenda. Di pasaran saat ini tersedia tenda dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Tenda-tenda tersebut sangat praktis dan waktu yang diperlukan untuk mendirikannyapun sangat cepat hanya sekitar 5-10 menit. Bahan-bahan yang digunakan juga relatif kuat dan ringan. Menggunakan bahan dari alam Vegetasi tertentu sangat kaya akan bahan untuk membuat tempat perlindungan. Di hutan tropis bahan yang bisa digunakan adalah ranting, dahan dan daun. Bentuk tempat perlindungan yang bisa dibuat dengan menggunakan bagian-bagian pohon adalah :

Bentuk 1

Untuk membuat tempat perlindungan seperti gambar di atas, diperlukan bahan-bahan sebagai berikut : · Dua buah pohon sebagai tiang utama. · Daun yang cukup kuat, akan lebih baik jika jenis daunya lebar, misalnya daun pisang. · Batang dan ranting. · Tali, bisa menggunakan tali yang tersedia dari alam misalnya kulit pohon, akar gantung, atau dari bambu. · Pisau atau alat pemotong. Bentuk tempat perlindungan seperti dia atas memang praktis, tetapi ada hal yang harus diperhatikan misalnya arah angin. Untuk tempat yang aman dari binatang buas dan dari kemungkinan angin dan hujan yang deras tempat perlindungan seperti di atas sudah cukup.

Bentuk 2

Tempat perlindungan di atas digunakan untuk tempat yang bagian dasarnya mengandung air seperti rawa-rawa. Untuk membuat tempat tersebut bahan yang diperlukan adalah : · Daun yang cukup kuat untuk bagian atap, bagian alas bisa menggunakan rumput atau lumut-lumut tebal. · Batang pohon atau ranting yang kuat. · Tali, bisa menggunakan tali yang tersedia dari alam misalnya kulit pohon, akar gantung, atau dari bambu. · Pisau atau alat pemotong. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membuat tempat perlindungan tersebut adalah : · Pastikan ketinggian alas di atas air yang menggenang. · Tidak ada binatang buas di sekitarnya mengingat tempat berair seperti rawa biasanya menjadi habitat beberapa binatang berbahaya seperti lintah, ular atau buaya. Kelemahan dari tempat perlindungan tersebut adalah kesulitan untuk membuat perapian mengingat bagian alasnya berair. Jika mungkin maka cara mengatasinya gunakan batu atau batang pohon sebagai dasar perapian.

Bentuk 3

Bentuk ketiga ini relatif cukup aman untuk berlindung dalam jangka waktu yang lama. Bentuk ini juga lebih aman dari ancaman binatang buas dan kondisi alam yang tidak bersahabat. Untuk membuatnya diperlukan bahan-bahan sebagai berikut : · Tonggok pohon atau batu yang cukup besar. · Daun yang cukup kuat untuk bagian atap, bagian alas bisa menggunakan rumput atau lumut-lumut tebal. · Batang pohon atau ranting yang kuat. · Tali, bisa menggunakan tali yang tersedia dari alam misalnya kulit pohon, akar gantung, atau dari bambu. · Pisau atau alat pemotong. Ketika menggunakan tempat perlindungan bentuk ini, yang perlu diperhatikan adalah arah angin, karena jika terjadi angin kencang maka akan rusak, mengingat pancangan yang digunakan adalah satu tempat. Menggunakan bahan buatan Ketika mengikuti kegiatan di alam terbuka, peserta sudah menyiapkan bahan-bahan yang bisa dijadikan tempat perlindungan. Bahan yang paling praktis untuk dijadikan tempat perlindungan adalah ponco. Selain ponco bisa digunakan juga plastik yang tebal dan kuat. Untuk kondisi perang, seorang tentara lintas udara bisa menggunakan parasutnya sebagai tempat perlindungan. Selain bahan utama atap, bahan lain yang diperlukan adalah tali. Untuk mengikat bisa digunakan tali buatan yang telah dibawa atau tali alami yang terbuat dari akar, untaian rumput, atau kulit pohon.

Contoh bentuk tempat perlindungan dengan menggunakan bahan buatan dan bantuan bahan alami adalah sebagai berikut :

Bentuk 1

Untuk membuat tempat perlindungan di atas sangatlah sederhana. Dengan menggunakan 2 pohon sebagai pancangan utama, atap (ponco atau plastik tebal) dan tali. Faktor utama yang harus diperhatikan untuk membuat bentuk di atas adalah arah angin. Sesuaikan posisi atap dengan arah angin. Bagian yang tertutuplah (luar) yang menerima angin.

Bentuk 2

Bentuk ini hampir sama dengan bentuk pertama, hanya kedua sisinya tertutup oleh atap, sehingga diperlukan jenis ponco yang lebih besar atau gunakan 2 ponco. Bagian tutup kepala dalam ponco bisa ditarik/diikat pada cabang pohon. Bentuk ini lebih aman dari bentuk pertama karena lebih banyak sisi yang terlindung.

Bentuk 3

Bentuk ketiga hampir sama dengan bentuk kedua, perbedaannya ada rangka tengah (Rangka A) yang terbuat dari cabang pohon, disusun untuk memperkuat shelter jika angin bertiup kencang.

Bentuk 4

Bentuk ini sangatlah praktis dan sederhana, namun hanya dapat digunakan oleh seorang saja. Bentuk ini sacara struktural hampir sama dengan bentuk ketiga tempat perlindungan yang menggunakan bahan alami di atas. Perbedaannya adalah bagian atap tidak menggunakan pohon tetapi menggunakan bahan buatan seperti ponco, plastik, atau parasut

Tempat perlindungan di bawah permukaan tanah

Diperlukan cukup tenaga untuk membuat tempat perlindungan di bawah permukaan tanah. Bentuk seperti ini sangat cocok untuk kondisi perang di mana orang yang berlindung harus terhindar dari tinjauan musuh. Untuk membuat tempat perlindungan ini diperlukan lebih dari seorang. Hal yang paling memberatkan adalah membuat galian. Paling praktis adalah menggunakan cekungan bekas bom. Untuk bagian atas bisa menggunakan rangkaian daun atau ponco. Menggunakan rangkaian daun lebih praktis karena warnanya tidak kontras dengan keadaan alam, terutama jika berada di hutan.

Jika sering berlatih maka membuat tempat perlindungan bukanlah hal sulit. Alam juga sudah menyediakan bahan-bahan yang melimpah, walaupun harus selalu diingat pembuatan tempat perlindungan janganlah merusak ekosistem alam yang ada.

 

Membuat Bivak Yang Aman


bivak ponco 300x231 Membuat Bivak Yang AmanBivak adalah salah satu ketrampilan dalam mempertahankan hidup dialam terbuka (survive) yang harus dimiliki seorang petualang bila tersesat di hutan, gunung. Bivak adalah tempat untuk berlindung dan bermalam di hutan. Membuat tempat perlindungan jadi penting ketika terjadi hal-hal darurat. Padahal, bivak tak hanya dibuat ketika darurat saja, tetapi juga dipakai pada saat membuat camp sementara, artinya faktor kenyamanan harus menjadi prioritas.

Ada beberapa syarat yang harus diperhatikan ketika kita memutuskan untuk membuat bivak, yaitu jangan sekali-kali membuat bivak pada daerah yang berpotensi banjir pada waktu hujan. Di atas bivak hendaknya tak ada pohon atau cabang yang mati atau busuk. Ini bisa berbahaya kalau runtuh.
Di daerah tempat kita akan mendirikan bivak hendaknya bukan merupakan sarang nyamuk atau serangga lainnya. Kita juga perlu perhatikan bahan pembuat bivak. Usahakan bivak terbuat dari bahan yang kuat dan pembuatannya baik. Bahan dasar untuk membuat bivak bisa bermacam-macam. Ada yang dibuat dari ponco (jas hujan plastik), lembaran kain plastik (flysheet) atau memanfaatkan bahan-bahan alami, seperti daun-daunan, ijuk, rumbia, daun palem, dan lainnya. Tapi yang paling penting, kesemua bahan dasar tadi sanggup bertahan ketika menghadapi serangan angin, hujan atau panas.
Selain bahan yang bermacam-macam, bentuk bivak pun amat beragam. Semuanya disesuaikan dengan kebutuhan. Tak harus berbentuk kerucut atau kubus, modelnya bisa apa saja. Ini amat bergantung pada kreativitas kita sendiri. Membuat bivak merupakan seni tersendiri karena kreasi dan seni seseorang bisa dicurahkan pada hasilnya.
Sebagai contoh, one man bivak. Pembuatannya dengan menancapkan kayu tiang pokok yang tingginya sekitar 1,5 meter. Letakkan di atasnya sebatang kayu yang panjangnya kira-kira dua meter. Ujungnya diikat kuat yang biasanya memakai patok. Lalu sandarkan potongan kayu yang lebih kecil di atasnya, yang berfungsi untuk menahan dedaunan yang akan jadi atap ”rumah” kita.
Bentuk lain dari alam yang bisa dimanfaatkan sebagai bivak yaitu gua, lekukan tebing atau batu yang cukup dalam, lubang-lubang dalam tanah dan sebagainya. Apabila memilih gua agar kita bisa memastikan tempat ini bukan persembunyian satwa. Gua yang akan ditinggali juga tak boleh mengandung racun. Cara klasik untuk mengetahui ada tidaknya racun adalah dengan memakai obor. Kalau obor tetap menyala dalam gua tadi artinya tak ada racun atau gas berbahaya di sekitarnya.
Kita juga bisa memanfaatkan tanah berlubang atau tanah yang rendah sebagai tempat berlindung. Tanah yang berlubang ini biasanya bekas lubang perlindungan untuk pertahanan, bekas penggalian tanah liat dan lainnya. Pastikan tempat-tempat tersebut tidak langsung menghadap arah angin. Kalau terpaksa menghadap angin bertiup kita bisa membuat dinding pembatas dari bahan-bahan alami. Selain menahan angin, dinding ini bertugas untuk menahan angin untuk tidak meniup api unggun yang dibuat di muka pintu masuk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s